Search

1. Pendahuluan: Mengapa BGP Traffic Engineering Penting?

Border Gateway Protocol (BGP) adalah tulang punggung routing internet global, menghubungkan lebih dari 70,000 Autonomous Systems (AS) di seluruh dunia. Namun, BGP dirancang untuk menemukan jalur yang tersedia, bukan jalur terbaik secara teknis. Di sinilah BGP Traffic Engineering (TE) berperan.

BGP Traffic Engineering adalah praktik memanipulasi atribut-atribut BGP untuk memengaruhi keputusan routing, dengan tujuan:

  • Mengoptimalkan utilisasi bandwidth

  • Mengurangi latency

  • Meningkatkan redundansi

  • Mengurangi biaya transit

  • Memenuhi Service Level Agreements (SLAs)

2. Prinsip Dasar BGP Decision Process

Sebelum melakukan TE, penting memahami proses pengambilan keputusan BGP:

  1. Highest Local Preference (Local-pref) - Prioritas dalam AS

  2. Shortest AS Path - Jalur AS terpendek

  3. Lowest Origin Type - IGP lebih dipilih daripada EGP

  4. Lowest MED (Multi-Exit Discriminator) - Untuk inbound traffic

  5. eBGP over iBGP - Routing external lebih dipilih

  6. Lowest IGP Metric - Ke next hop terdekat

  7. Oldest Path - Stabilitas

  8. Router ID Terendah - Tie-breaker terakhir

3. Teknik-Teknik BGP Traffic Engineering Utama

3.1. Mengontrol Outbound Traffic (Traffic Keluar)

A. Local Preference Manipulation

  • Meningkatkan local-pref untuk prefiks tertentu agar keluar melalui link tertentu

  • Contoh: set local-preference 200 untuk route melalui link utama

B. AS-Path Prepending

  • Menambahkan AS number berulang kali untuk membuat jalur tampak lebih panjang

  • Efektif untuk mengurangi inbound traffic dari upstream tertentu

route-map PREPEND permit 10
  set as-path prepend 64500 64500 64500

C. Selective Announcement

  • Hanya mengumumkan prefiks tertentu ke upstream tertentu

  • Mengurangi beban pada link backup untuk traffic reguler

3.2. Mengontrol Inbound Traffic (Traffic Masuk)

A. MED (Multi-Exit Discriminator)

  • Memberi sinyal ke upstream tentang preferensi exit point

  • Lower MED lebih dipilih

route-map SET_MED permit 10
  set metric 50

B. Community Strings

  • Menggunakan BGP communities untuk mengirim sinyal ke upstream

  • Contoh: 64500:80 untuk meminta upstream mengatur local-pref 80

C. Prefix De-aggregation

  • Membagi blok IP besar menjadi subnet-subnet kecil

  • Masing-masing subnet diumumkan melalui exit point berbeda

3.3. Teknik Lanjutan

A. BGP Add-Path

  • Mengumumkan multiple paths untuk prefiks yang sama

  • Meningkatkan load balancing dan failover

B. BGP PIC (Prefix Independent Convergence)

  • Mempercepat convergence dengan pre-computed backup paths

C. BGP Flowspec

  • Traffic engineering berbasis flow dengan filtering canggih

4. Alat dan Metodologi BGP TE Modern

4.1. RPKI (Resource Public Key Infrastructure)

  • Validasi asal prefix untuk mencegah hijacking

  • Dasar untuk BGP Origin Validation

4.2. BGP Monitoring & Analytics

  • Tools seperti BGPStream, ExaBGP, GoBGP

  • Real-time monitoring untuk deteksi anomaly

4.3. SDN-Based BGP TE

  • Controllers terpusat (OpenDaylight, ONOS)

  • Policy-based routing otomatis

  • Integrasi dengan analytics dan machine learning

5. Studi Kasus: Implementasi BGP TE di Jaringan Tier-2 ISP

Scenario: ISP dengan dua upstream (Provider A dan B) ingin:

  1. 80% outbound traffic melalui Provider A (lebih murah)

  2. 20% melalui Provider B (backup)

  3. Inbound traffic dibagi 50/50 untuk load balancing

Implementasi:

! Konfigurasi untuk Provider A
router bgp 64500
 neighbor 203.0.113.1 route-map SET_LPREF in
!
route-map SET_LPREF permit 10
 set local-preference 200

! Konfigurasi untuk Provider B
route-map SET_LPREF_PROVIDER_B permit 10
 set local-preference 150

! Untuk inbound traffic - MED manipulation
route-map SET_MED_FOR_A permit 10
 set metric 100
!
route-map SET_MED_FOR_B permit 10
 set metric 200

6. Best Practices dan Pertimbangan

6.1. Prinsip Desain

  • Konservatif: Perubahan bertahap, monitoring ketat

  • Dokumentasi: Catat semua perubahan dan dampaknya

  • Reversibilitas: Selalu siap dengan rollback plan

6.2. Pengukuran dan Validasi

  • Monitor sebelum dan sesudah perubahan

  • Gunakan tools seperti:

    • Smokeping untuk latency

    • Cacti/MRTG untuk bandwidth utilization

    • RIPE Atlas untuk measurement global

6.3. Koordinasi dengan Upstream/Downstream

  • Komunikasikan perubahan kebijakan

  • Gunakan BGP communities yang standar (RFC1998)

  • Partisipasi dalam IXP dan peering communities

7. Tantangan dan Batasan BGP TE

7.1. Konvergensi Lambat

  • BGP membutuhkan 3-5 menit untuk konvergensi global

  • Solusi: BGP PIC, Fast Reroute

7.2. Lack of Topology Visibility

  • Tidak mengetahui kondisi link internal AS lain

  • Solusi: BGP-LS (Link State) untuk visibility

7.3. Inter-AS Coordination

  • Sulit mengkoordinasikan kebijakan antar AS

  • Solusi: Standardized BGP communities

7.4. Scalability Issues

  • Full tables BGP (~900,000 routes)

  • Memory dan CPU intensive

  • Solusi: Route filtering dan optimization

8. Perbandingan: BGP TE vs MPLS TE

Aspek BGP TE MPLS TE
Scope Inter-domain Intra-domain
Complexity Moderate High
Control Granularity Prefix-based Flow-based
Convergence Slow (minutes) Fast (sub-second)
Implementation Mostly configuration-based Requires protocol extensions


9. Tren Masa Depan BGP Traffic Engineering

9.1. Segment Routing over IPv6 (SRv6)

  • Menggabungkan kelebihan MPLS TE dengan simplicity BGP

  • Source routing dengan segment lists

9.2. AI/ML dalam BGP Optimization

  • Predictive traffic engineering

  • Anomaly detection otomatis

9.3. BGP Security Enhancements

  • BGPsec untuk path validation

  • Enhanced RPKI adoption

9.4. Inter-domain SDN

  • Controller-based inter-AS TE

  • Standardisasi APIs untuk coordination

10. Kesimpulan

BGP Traffic Engineering tetap menjadi seni sekaligus ilmu dalam mengelola jaringan internet. Meskipun memiliki keterbatasan, dengan pendekatan yang tepat, BGP TE dapat memberikan:

  1. Optimisasi biaya melalui seleksi path yang cerdas

  2. Peningkatan performa dengan latency-aware routing

  3. Ketahanan jaringan melalui failover yang terencana

  4. Kontrol granular untuk memenuhi SLA spesifik

Kunci keberhasilan adalah:

  • Pemahaman mendalam tentang BGP attributes

  • Monitoring berkelanjutan dan analytics

  • Perubahan bertahap dengan testing menyeluruh

  • Kolaborasi dengan komunitas networking

Dengan evolusi menuju SDN, AI, dan enhanced security, masa depan BGP Traffic Engineering menjanjikan automasi yang lebih cerdas dan kontrol yang lebih presisi atas salah satu sistem terdistribusi terbesar di dunia - Internet Global.


Referensi untuk Eksplorasi Lebih Lanjut:

  • RFC 4271: BGP-4 Specification

  • RFC 1998: BGP Communities Attribute

  • RFC 7911: Advertisement of Multiple Paths in BGP

  • BGP Design and Implementation (Cisco Press)

  • NANOG Presentasi tentang Advanced BGP TE Techniques