Di era transformasi digital, institusi pendidikan dituntut untuk menyediakan layanan IT yang andal, fleksibel, dan mudah dikelola. Namun, infrastruktur tradisional seringkali menjadi penghambat. Di sinilah Nutanix hadir sebagai solusi. Artikel ini akan membahas secara mendalam tentang Nutanix, arsitekturnya, serta manfaatnya, khususnya bagi lingkungan kampus.
Home
Pegasus dan Era Baru Pengawasan Digital: Ketika Ponsel Mahasiswa Menjadi Medan Pertempuran
- Details
- Hits: 3
Pendahuluan: Sinyal dari Serbia
Pada September 2026, dunia akademik dan aktivisme digital dikejutkan oleh sebuah temuan forensik. Citizen Lab, laboratorium riset keamanan siber dari University of Toronto, bersama SHARE Foundation, mengonfirmasi bahwa iPhone milik seorang anggota gerakan protes mahasiswa di Serbia telah terinfeksi Pegasus, spyware komersial buatan NSO Group asal Israel. Yang membuat kasus ini istimewa: infeksi terjadi tanpa korban mengeklik tautan, membuka file, atau melakukan interaksi apa pun. Serangan berlangsung melalui zero-click exploit pada iMessage, dengan indikator infeksi yang kuat pada periode Desember 2025 hingga Januari 2026. Apple kemudian menambal celah tersebut melalui pembaruan iOS 18.4.1 pada April 2025, tetapi perangkat yang tidak diperbarui tetap menjadi sasaran empuk.
Bagi mahasiswa Indonesia, pertanyaan yang segera muncul: apakah ini relevan dengan kita? Jawabannya, sangat relevan. Kasus Serbia bukan sekadar berita teknologi. Ia adalah potret bagaimana teknologi pengawasan yang dijual secara komersial dapat diarahkan kepada mahasiswa, akademisi, jurnalis, dan aktivis di negara mana pun—termasuk Indonesia, yang menurut sejumlah laporan telah menjadi bagian dari rantai pasok dan penggunaan spyware global.
Artikel ini akan membedah apa itu Pegasus, bagaimana ia bekerja, siapa yang menjadi target, apa yang terjadi di Serbia dan Indonesia, serta mengapa literasi spyware harus menjadi bagian dari kesadaran kampus.
Memahami LIMS: Sistem Manajemen Penyadapan yang Sah dan Tantangan Akuntabilitasnya
- Details
- Hits: 102
Artikel ini membahas tentang Lawful Interception Management System (LIMS) sebagai infrastruktur teknis dalam penegakan hukum, mulai dari fungsi, standar internasional yang digunakan, hingga pentingnya tata kelola yang ketat untuk mencegah penyalahgunaan kewenangan.
Pendahuluan: Antara Kebutuhan Investigasi dan Perlindungan Privasi
Dalam upaya memberantas kejahatan terorganisir, terorisme, dan tindak pidana berat lainnya, aparat penegak hukum sering kali membutuhkan akses terhadap komunikasi yang bersifat tertutup. Penyadapan (interception) menjadi salah satu metode yang diakui secara hukum, namun karena sifatnya yang sangat intrusif terhadap hak privasi, pelaksanaannya harus diikat oleh prosedur yang ketat dan akuntabel.
Di sinilah peran Lawful Interception Management System (LIMS) menjadi krusial. LIMS bukanlah alat untuk menyadap secara sembarangan, melainkan sebuah sistem manajemen terpusat yang digunakan oleh penyedia layanan telekomunikasi untuk memfasilitasi permintaan penyadapan yang sah dari lembaga penegak hukum (Law Enforcement Agencies/LEA) secara aman, terkontrol, dan sesuai dengan standar regulasi yang berlaku.
PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN PROJECT BASED LEARNING (PjBL) BERBASIS AGILE/SCRUM
- Details
- Hits: 232
Abstrak
Project Based Learning (PjBL) telah lama diakui sebagai model pembelajaran yang efektif untuk mengembangkan keterampilan abad ke-21. Namun, implementasi PjBL sering menghadapi tantangan dalam hal manajemen proyek, koordinasi tim, dan pemantauan kemajuan yang terstruktur. Artikel ini mengusulkan pengembangan model pembelajaran PjBL berbasis Agile/Scrum, sebuah kerangka kerja manajemen proyek iteratif yang berasal dari industri pengembangan perangkat lunak. Melalui kajian literatur sistematis terhadap berbagai studi implementasi Scrum dalam pendidikan, artikel ini mengidentifikasi komponen kunci, sintaks pembelajaran, dan dampak yang diharapkan dari integrasi PjBL-Scrum. Model yang dikembangkan mencakup adaptasi peran Scrum (Product Owner, Scrum Master, Development Team), artefak (Product Backlog, Sprint Backlog, Increment), dan event (Sprint Planning, Daily Scrum, Sprint Review, Sprint Retrospective) ke dalam konteks pembelajaran. Sintaks pembelajaran terdiri dari enam fase: (1) Orientasi dan Pembentukan Tim, (2) Penyusunan Product Backlog Pembelajaran, (3) Sprint Planning, (4) Pelaksanaan Sprint dengan Daily Scrum, (5) Sprint Review, dan (6) Sprint Retrospective. Model ini diharapkan dapat meningkatkan motivasi belajar, keterampilan kolaborasi, kemampuan pemecahan masalah, serta kesiapan siswa menghadapi dunia kerja yang dinamis.
Kata Kunci: Project Based Learning, Agile, Scrum, Model Pembelajaran, Kolaborasi