Kemarau panjang seolah menggantungkan waktu di Nagari Maninjau. Langit yang biasanya gemuruh dengan suara halilintar dan hujan deras, kini membentang biru kelam, keras, dan kering. Puncak Bukit Barisan di seberang danau tampak buram oleh kabut asap kebakaran hutan yang menjalar pelan namun pasti. Bencana susulan, demikian berita menyebutnya; tanah longsor di beberapa titik menyusul kebakaran hebat, mengubur jalan dan memutus akses ke desa-desa terpencil. Bau tanah terbakar dan kayu hangus menyatu dengan udara lembab danau, menciptakan aroma nestapa.
Di tengah riuh rendah helikopter bantuan dan suara gemuruh mesin berat yang mencoba membuka jalan, seorang perempuan muda bernama Kinar berdiri di dermaga kecil milik keluarganya yang nyaris runtuh. Matanya kosong menatap air danau yang tenang, kontras dengan karung-karung pasir yang ditumpuk di tepian. Warung makan sederhana peninggalan ibunya, "Rumah Makan Gulai Ikan Raflesia", kini hanya tumpukan kayu dan genting, tertimpa pohon trembesi yang tumbang akibat lereng yang tergerus.
“Bu, ada tim dari luar mau bicara!” teriak seorang pemuda, menghentak lamunannya.
Seorang perempuan dengan jaket oranye terang bertuliskan ‘PNP - Relawan Psikososial’ mendekat, wajahnya ramah namun terlihat lelah. “Saya Elsa dari Tim PNP. Kami baru turun. Mau tanya kondisi terkini di sini, terutama untuk anak-anak dan lansia,” ujarnya, sambil matanya menyapu pemandangan dermaga yang rusak.
Kinar menghela napas. “Yang selamat sudah diungsikan ke balai nagari. Tapi… banyak yang masih trauma. Anak-anak ketakutan setiap kali mendengar suara tanah bergerak atau pohon tumbang.”
“Kami bawa tim kesehatan, logistik, dan juga hiburan sederhana untuk anak-anak. Bisa tolong antar kami?” pinta Elsa.
Tanpa banyak bicara, Kinar mengangguk. Dia ajak Elsa dan dua relawan lainnya menyusuri jalan setapak yang licin. Di balai nagari yang penuh sesak, suasana muram terasa menyelimuti. Anak-anak menempel erat pada orang tua mereka, wajah-wajah mereka kotor dan penuh ketakutan.
Sesuatu kemudian berubah ketika salah seorang relawan, seorang lelaki muda bernama Rama, mengeluarkan sekotak krayon dan kertas gambar dari tas besar mereka. “Ayo, siapa yang mau gambar?” serunya dengan suara ceria.
Diam sejenak. Seorang anak perempuan kecil, mungkin usia lima tahun, dengan baju merah jambu yang kusut, memberanikan diri mendekat. “Aku mau,” bisiknya.
“Namanya siapa?” tanya Rama lembut.
“Delima.”
Satu per satu, anak-anak lain mulai mendekat. Kertas dan krayon dibagikan. Elsa dan timnya tidak hanya membagikan makanan dan obat-obatan, tetapi juga duduk, mendengarkan cerita para orang tua dengan sabar, mencatat kebutuhan spesifik mereka, dari susu formula hingga pakaian dalam. Kehadiran mereka yang cepat dan penuh perhatian seperti oase di tengah keputusasaan.
Kinar yang awalnya hanya mengamati dari jauh, merasa air matanya menetes. Dia melihat bagaimana ibunya, yang selama ini diam dan terpaku, perlahan mulai bercerita pada Elsa tentang resep gulai ikan yang hilang bersama warungnya.
“Ibu jago masak,” kata Kinar tiba-tiba, mendekat. “Warung itu segalanya bagi kami.”
Elsa menatapnya. “Kami akan coba bantu pemulihan ekonomi juga, Kinar. Bukan cuma bantuan darurat. Tapi mungkin butuh proses.”
Malam harinya, di tenda pengungsian, Kinar tidak bisa tidur. Dia keluar dan menemukan Elsa dan Rama sedang menatap peta daerah rawan longsor dengan senter.
“Ada apa?” tanya Kinar.
“Kami khawatir titik ini,” kata Rama menunjuk sebuah area dekat sumber air. “Jika hujan turun deras, bisa longsor lagi. Tim teknis kami sudah tanda.”
Kinar tersentak. Itu dekat dengan kebun duku milik keluarganya yang tersisa. “Apa yang bisa kita lakukan?”
“Evakuasi preventif. Besok pagi, kita harus yakinkan warga di sana untuk pindah sementara,” jelas Elsa.
Keesokan harinya, dengan bantuan Kinar dan pemuda nagari, mereka berhasil mengevakuasi sepuluh kepala keluarga tepat sebelum hujan pertama setelah kemarau panjang turun dengan lebat. Tanah dari lereng itu memang ambles beberapa jam kemudian, menghanyutkan beberapa rumah kosong. Namun, tidak ada korban jiwa.
Beberapa hari kemudian, bantuan berkelanjutan mulai terorganisir. Kinar, yang menemukan kembali semangatnya, membantu mendistribusikan bantuan dan menjadi penghubung antara tim PNP dan warga. Suatu sore, Delima, anak kecil itu, menghampirinya sambil membawa sebuah gambar.
“Ini untuk Kak Kinar,” ujarnya malu-malu.
Kinar menerima gambar itu. Di atas kertas, ada gambar danau biru, bukit hijau, dan sebuah rumah kecil di tepinya. Yang membuatnya tersenyum adalah gambar pelangi besar yang menghubungkan langit dan danau, dengan warna-warna yang sangat cerah.
“Katanya pelangi muncul habis hujan,” kata Delima polos. “Aku gambar biar kita ingat nanti bakal ada yang indah lagi.”
Kinar memeluknya erat. Dia menatap ke arah danau. Air masih tenang, kabut asap sudah mulai berkurang. Di kejauhan, ia melihat tim PNP dan relawan lokal masih bekerja, membongkar reruntuhan, mendirikan tenda sekolah darurat, dan tertawa bersama anak-anak.
Bencana susulan mungkin telah meluluhlantakkan tanah dan rumah. Tapi di tepi Danau Maninjau, dari kegelapan dan keputusasaan, tumbuh sesuatu yang lain: benih harapan yang disiram oleh ketangguhan warga dan kecepatan tangan-tangan yang peduli. Warna-warni bantuan itu, seperti pelangi dalam gambar Delima, perlahan-lahan mulai menyembuhkan luka, mengecat ulang kenestapaan dengan warna-warni harapan yang sabar namun pasti.