Kabut masih menyelimuti puncak-puncak pegunungan Jayawijaya ketika Serma Edi mengikat tali pengaman terakhir di pinggangnya. Angin berdesir dingin, menusuk sampai ke tulang, tapi di matanya ada api yang tak bisa dipadamkan oleh suhu rendah sekalipun. Hari ini, dia bukan hanya seorang instruktur terjun payung. Hari ini, dia adalah sebuah janji yang berjalan.
Di darat, ratusan meter di bawah, seorang anak laki-laki berusia sembilan tahun bernama Karel menatap langit dengan mata berbinar. Karel, yang kakinya tak lagi bisa berlari karena sebuah kecelakaan, telah menjadikan Edi sebagai idolanya. Seminggu yang lalu, dalam kunjungan Edi ke sekolah dasar di kampungnya, Karel berkata dengan polos, "Aku ingin terbang seperti Abang Edi. Lihat dunia dari atas."
Kalimat itu mengubah segalanya. Lomba terjun payung dengan Sangkur Perak sebagai tujuan utama tiba-tiba punya muatan yang lebih dalam. Bukan sekadar prestasi, tapi tentang membawa mimpi seorang anak yang terkurung di tanah, untuk setidaknya sekali, "terbang" dan melihat dunianya dari sudut yang berbeda.
"Ready, Edi!" teriak Komandan Tim di komandan.
Edi mengangguk, tangan kanannya mengepal erat. Di dalam sarung tangan, ia menggenggam sebuah gantungan kunci kecil berbentuk pesawat kertas yang diberikan Karel. "Bawa ini, biar aku ikut terbang," bisik Karel waktu itu.
Pintu pesawat terbuka. Hembusan angin keras dan desingan mesin langsung memenuhi telinga. Di bawah, hamparan hijau dan putih pegunungan terlihat seperti peta raksasa. Ketinggian 10.000 kaki. Di titik ini, nyawa benar-benar bergantung pada keahlian, ketenangan, dan sepercik keberuntungan.
"Lima menit!" teriak jumper di sebelahnya.
Edi menutup mata, membayangkan wajah Karel. Dia ingat betul bagaimana mata anak itu bersinar saat mendengar cerita tentang awan yang seperti kapas dan bumi yang seperti permainan puzzle. Itulah yang akan dia lukiskan nanti. Dengan lebih detail. Dengan lebih hidup. Asalkan dia berhasil.
"Go! Go! Go!"
Satu per satu, tubuh-tubuh terlatih itu melompat ke angkasa. Edi adalah yang ketiga. Dia melangkah ke pinggir, mengambil ancang-ancang, dan... melompat.
Dunia berubah menjadi kesunyian yang gaduh. Hanya desau angin kencang yang menyapu tubuhnya yang terjun bebas. Tekanan udara menampar wajahnya. Tapi di tengah sensasi mencekam itu, Edi merasakan kedamaian. Dia membayangkan dirinya adalah mata Karel. Dia menatap lekuk-lekuk lembah yang dalam, puncak-puncak batu yang menjulang dengan tutupan salju tipis, dan hamparan langit biru yang tak terhingga.
Waktu terjun bebas terasa singkat dan lama sekaligus. Pada ketinggian yang ditentukan, refleksnya yang terlatih bekerja. Tangannya meraih cincin pembuka parasut. Satu tarikan kuat.
Whoosh!
Dengan suara yang menggembirakan, parasut oranye-putihnya membentang sempurna di atasnya. Sentakan keras menghentikan laju jatuhnya, menggantikannya dengan ayunan lembut seperti buaian. Nafas yang selama ini tertahan, keluar dalam helaan panjang lega. Tapi tugas belum selesai. Dia harus mendarat tepat di sasaran berbentuk lingkaran di tengah area yang dipenuhi bebatuan dan lereng curam.
Edi dengan cekatan menarik tali kendali, mengarahkan parasutnya seperti seorang nahkoda mengemudikan perahu di tengah arus angin gunung. Setiap koreksi halus, setiap keputusan, menentukan hasil akhir. Matanya fokus pada titik merah di bawah. Dunia di sekelilingnya seolah menghilang. Hanya ada angin, parasut, dan target.
Kakinya menyentuh tanah dengan sempurna di tengah lingkaran merah, tepat di titik pusat. Gulingan sempurna menahan laju, dan dia berhenti, berlutut di atas rumput dingin. Suara tepuk tangan dan sorak-sorai dari tim darat dan rekan-rekannya yang telah mendarat terdengar sayup-sayup. Tapi di telinga Edi, yang terdengar hanyalah tawa Karel.
Dia berhasil. Tidak hanya mendarat presisi, tetapi catatan waktunya dari keluar pesawat hingga membuka parasut adalah yang tercepat dan terakurat.
Upacara penganugerahan Sanghur Perak berlangsung sederhana di lapangan. Medali itu tergantung di dadanya, terasa berat dan hangat. Tapi bagi Edi, puncak kebanggaan datang beberapa jam kemudian, ketika dia kembali ke kampung Karel.
Dia tidak datang dengan seragam lengkap dan medali. Dia datang dengan sebuah album. Album berisi foto-foto yang dia ambil dengan kamar kecil yang diikat di helmnya selama terjun. Foto hamparan pegunungan dari ketinggian, awan-awan yang mengitari puncak, dan cahaya matahari yang menembus kabut.
Duduk di samping Karel di teras rumah kayu, Edi membuka album itu halaman demi halaman. "Ini, Kar. Dunia dari atas, seperti yang aku janjikan," ucapnya pelan.
Karel memandangi setiap foto dengan mulut agak terbuka. Jarinya yang mungil menelusuri gambar-gambar itu. "Indah sekali, Bang," bisiknya, matanya berkaca-kaca. "Aku seperti ikut terbang bersamamu."
Edi melepas medali Sanghur Perak dari lehernya dan dengan hati-hati mengalungkannya ke leher Karel. "Ini milik kita berdua. Kau yang memberiku alasan untuk terbang lebih hati-hati dan lebih bermakna."
Karel memegang medali itu, logam dingin itu kini terasa hangat oleh harapan. Di langit senja, sebuah pesawat melintas tinggi, meninggalkan jejak putih. Dua pasang mata memandangnya. Satu pasang adalah mata seorang prajurit yang telah menaklukkan langit dan ketakutan. Satu pasang lagi adalah mata seorang anak yang, untuk pertama kalinya, merasa langit bukan lagi batas, tetapi sebuah undangan.
Dan di ketinggian 10.000 kaki yang lain—ketinggian mimpi dan empati—mereka benar-benar telah bertemu.