Search

Kabut pagi di Bandara Sultan Iskandar Muda masih tipis ketika Nesa melangkah keluar dari taksi. Tas ranselnya terasa berat, bukan oleh bawaan, tapi oleh kenangan. Dua bulan lalu, di lobi bandara inilah hidupnya berubah—bukan karena naik pesawat, tapi karena sebuah aksi nekat yang membuatnya viral: menyamar sebagai pramugari.

Saat itu, seragam biru kelabu yang ia rakit dari jahitan ibunya dan lencana tiruan yang dibeli online, adalah tiket untuk melarikan diri. Dari apa? Dari rasa hampa setelah gagal seleksi pramugari untuk ketiga kalinya. Dari tatapan ibunya yang selalu berkata, "Jangan mimpi terlalu tinggi, Nes." Ia hanya ingin merasakan, sekali saja, bagaimana rasanya berjalan percaya diri di terminal, disapa dengan senyum, dianggap sebagai bagian dari dunia yang ia idamkan.

Tapi kamera handphone seorang penumpang yang curiga mengubah segalanya. Videonya tersebar: seorang gadis dengan seragam tidak sempurna, tapi dengan raut wajah begitu yakin melintasi ruang tunggu. Netizen membagi dua: ada yang mengecamnya sebagai penipu, ada yang terpesona oleh keberanian dan mimpinya yang nyaris tragis.

Nesa menghabiskan minggu-minggu setelahnya dalam rasa malu yang mendalam. Hingga sebuah surel tiba.

"Kepada Nesa. Kami melihat bukan hanya aksi Anda, tapi juga potensi yang tersembunyi di baliknya. Keberanian dan kemampuan berimprovisasi di bawah tekanan adalah hal yang kami cari. Kami menawarkan Anda beasiswa penuh program pendidikan pramugari di ‘Aviasi Bangsa’."

Itu datangnya dari Kapten Reza, seorang pensiunan pilot yang mendirikan sekolah penerbangan kecil. Dalam wawancara via zoom, matanya tajam tapi tidak menghakimi. "Kami tidak membenarkan cara Anda, Nesa. Tapi kami percaya energi dan mimpi itu perlu diarahkan, bukan dipatahkan."

Kini, Nesa berdiri di depan gedung pelatihan. Jantungnya berdebar kencang. Ia bukan lagi "Nisya gadungan" yang viral, tapi calon pramugari yang harus membuktikan diri.

Hari pertama pelatihan adalah tentang posture dan senyum. Pelatihnya, Bu Winda, adalah seorang pramugari senior dengan sorot mata yang bisa menembus jiwa.

"Di sini, kalian belajar untuk melayani, bukan sekadar terlihat gagah," katanya. Tatapannya sesekati menyapu Nesa, seolah tahu betapa getirnya perjalanan gadis ini.

Suatu sore, saat sesim role play menangani penumpang marah, Nesa tanpa sadar menggunakan trik yang dulu ia pakai saat menyamar: sedikit basa-basi, nada menenangkan yang tulus, dan kontak mata yang dalam. Bu Winda, yang mengamati, memanggilnya setelah sesi.

"Apa yang tadi kamu lakukan, itu natural. Itu tidak diajarkan di buku. Itu berasal dari pengalaman nyata, ya?" tanyanya.

Nesa menunduk, "Saya… saya belajar dari kesalahan saya, Bu."

"Kadang," Bu Winda tersenyum tipis, "jalan memutar memberikan pelajaran yang jalan lurus tidak berikan. Tapi ingat, di udara, yang dibutuhkan adalah keaslian, bukan topeng."

Pelatihan berlanjut dengan keras. Mulai dari keselamatan darurat, first aid, hingga melayani makanan di simulator kabin yang bergoyang. Nesa berjuang. Ia bukan yang terpandai, tapi ia yang paling haus. Setiap kali ingin menyerah, ia ingat tatapan jijik di kolom komentar video viralnya, dan juga harapan di mata Kapten Reza.

Puncaknya adalah ujian simulasi penerbangan penuh. Nesa ditugaskan sebagai lead attendant untuk penerbangan fiktif Jakarta-Medan. Segalanya berjalan lancar, hingga seorang "penumpang" yang diperankan oleh seorang instruktur tiba-tiba berteriak pura-pura sesak napas.

Kepanikan sempat melanda. Tapi Nesa teringat momen di lobi bandara dulu, saat semua mata tertuju padanya dan ia harus tetap tenang. Ia mengambil alih, meminta bantuan, mengarahkan penumpang lain, dan melakukan prosedur first aid dengan tangan yang stabil. Suaranya tidak bergetar.

Setelah simulasi usai, Bu Winda menghampirinya. "Bagus. Kamu tidak hanya menjalankan prosedur. Kamu merasakan krisisnya. Itu yang membedakan pramugari yang baik dan yang luar biasa."

Di hari wisuda, Nesa berdiri tegak di atas panggung, mengenakan seragam biru kelabu yang asli, dengan sayap kecil berkilau di dada kirinya. Kapten Reza yang memberikan sambutan.

"Kami di sini bukan hanya mencetak pramugari, tapi juga memberi kesempatan kedua pada mimpi yang pernah tersesat," katanya, dan Nesa tahu, kata-kata itu untuknya.

Ia menatap ke arah audiens. Di baris belakang, ibunya duduk, matanya berkaca-kaca. Tidak lagi dengan tatapan khawatir, tapi dengan kebanggaan.

Pesawat pertama yang Nesa tumpangi sebagai pramugari trainee adalah rute Banda Aceh-Jakarta. Saat melayani penumpang, seorang wanita paruh baya menatapnya lama.

"Maaf, Nak," katanya pelan. "Kamu mirip dengan gadis di video itu… yang pramugari gadungan."

Nesa tersenyum, hati berdegup. Ia mengambil napas dalam. "Iya, Bu. Itu saya."

Wanita itu terkejut, lalu senyumnya melebar. "Wah… lihat kamu sekarang. Keren."

Nesa mengangguk, rasa panas di dada bukan lagi karena malu, tapi karena sebuah penebusan yang mulai bersemi. Ia menata trolley minuman, melirik jendela pesawat. Awan-awan membentang lembut di bawah. Perjalanan panjang dari seorang gadis palsu di lobi bandara, akhirnya membawanya ke langit yang sesungguhnya. Bukan lagi menyamar, tetapi menjadi.