Search

Pohon ketapang di halaman kampus Politeknik Negeri Padang rimbun, dedaunannya berbisik riuh ditiup angin Senin pagi. Di balik jendela gedung rektorat yang memantulkan langit, Reva menatap lurus ke cermin. Dasinya—yang sama ia pakai saat sidang disertasi dulu—terasa agak sempit. Lima menit lagi, pelantikan.

Tapi pikirannya melayang jauh, bukan pada naskah sumpah jabatan, melainkan pada sebuah bengkel las di ujung kota, dua puluh tahun silam. Ia melihat dirinya yang kecil, berdiri di samping ayahnya, mendengar desis listrik yang menyambung besi. Ayahnya, seorang tukang las tulang, selalu berkata dengan suara parau penuh asap: "Reva, ilmu yang baik itu seperti las yang kuat. Tak tampak dari luar, tapi menyambung yang terputus, menopang yang berat."

Acara pelantikan berlangsung khidmat. Sorot kamera, jabat tangan, tepuk tangan. Reva menyandang jabatan Direktur periode 2025-2029. Pidato pertamanya singkat. "Politeknik ini," ujarnya, suara tenang namun terdengar jelas hingga ke baris belakang, "bukan menara gading. Ia harus jadi bengkel raksasa tempat teori dan praktik dilas menjadi satu."

Euforia jabatan cepat memudar ketika ia masuk ke ruang kerjanya yang megah. Di mejanya sudah menumpuk berkas: laporan keuangan dengan angka yang tak sehat, protokol kesehatan lab yang kedaluwarsa, keluhan dosen tentang proyektor rusak di ruang kuliah. Masalah-masalah itu seperti mesin tua yang berderit, membutuhkan perbaikan, bukan sekadar polesan.

Malam itu, alih-alih pulang ke rumah dinas, Reva menyelinap ke bengkel teknik mesin. Bau oli dan logam menyambutnya. Ia duduk di bangku kayu yang lapuk, menghirup dalam-dalam. Di sanalah ia menemukan "kunci emas"-nya.

Esok harinya, ia mengumpulkan semua kepala laboratorium dan teknisi. Bukan rapat di ruang ber-AC, tapi turun langsung. Di depan mesin CNC yang mati suri, ia bertanya pada teknisi senior, "Menurut Bapak, akar masalahnya di sini apa?" Sang teknisi, terkejut didengar, menjawab panjang lebar tentang suku cadang dan sistem yang tak kompatibel.

Reva memberlakukan "Hari Rabu Tanpa Dasi", di mana semua staf pengajar dan direksi wajib menghabiskan setengah hari di bengkel, lab, atau bengkel mitra industri. Ia juga membuka "Kotak Aduan Las"—kotak fisik dan digital dimana siapa pun bisa melaporkan kerusakan atau ide perbaikan, dijamin ditindaklanjuti 48 jam.

Tantangan terbesar datang dari proyek revitalisasi Bengkel Otomasi. Anggaran terbatas, vendor menawarkan paket lengkap dengan harga selangit. Reva justru mengajak mahasiswa semester akhir dan dosen untuk merancang sendiri sistemnya. Mereka membongkar mesin-mesin tua, merakit ulang dengan modul open source. Proyek itu berantakan di minggu-minggu awal, penuh komponen yang gagal fungsi. Tapi Reva tak menyerah. Ia mengizinkan mereka gagal, sambil terus didampingi praktisi dari industri.

Suatu siang, saat Reva sedang membantu menyeimbangkan rotor pada sebuah motor listrik rakitan, seorang mahasiswa bertanya, "Pak Direktur, tidak malu jabatan setinggi ini turun ke bengkel berkeringat?"

Reva tersenyum, mengingat ayahnya. "Jabatan ini," katanya sambil membersihkan tangnya dengan kain majun, "bukan mahkota. Ia lebih mirip kunci inggris. Fungsinya hanya satu: mengencangkan apa yang kendur, agar mesin besar bernama pendidikan ini bisa berputar dengan mulus."

Ketika tahun pertama kepemimpinannya hampir berakhir, ada insiden kecil yang menjadi buah bibir. Sebuah mesin press hidrolik di bengkel produksi mogok tepat sebelum penilaian akreditasi nasional. Panik melanda. Reva datang, menggulung lengan baju kemejanya. Setelah dua jam membongkar bersama teknisi, mereka menemukan seal yang bocor. Mereka memperbaikinya dengan cadangan seadanya. Mesin itu hidup kembali.

Akreditasi itu pun berjalan lancar. Asesor bahkan memuji kesiapan dan kebersihan fasilitas.

Pada akhir tahun 2025, di upacara wisuda, Reva tidak hanya menyerahkan ijazah. Ia juga menyerahkan "sertifikat kompetensi bengkel" kepada setiap lulusan teknik, yang berisi catatan keterampilan hands-on mereka. Saat menyampaikan sambutan, matanya mencari sosok yang ia harapkan hadir—ayahnya. Ayahnya telah tiada, tetapi Reva yakin, di suatu tempat, sang tukang las tulang pasti tersenyum melihat putranya, sang Direktur, yang tak pernah lupa bahwa ilmu yang paling mulia adalah ilmu yang bisa memperbaiki dunia, sekaligus senyum bangga melihat putranya berhasil—sebuah sambungan yang sempurna, kuat, dan abadi.