Search

Udara gerah sudah menggantung sejak fajar. Dasar Desember, pikir Rahmat, sambil menghisap rokok kretek terakhir sebelum masuk mobil. Tahun ini musim tak lagi bisa ditebak. Hujan sebulan penuh, tiba-tiba terik tiga hari. Hari ini, langit abu-abu kelam kembali menggantung di atas Aceh Tamiang, memancarkan ancaman yang sunyi.

Mobil pikap tua itu bergerak lambat, menyusuri jalan desa yang sisi aspalnya sudah mulai terkikis oleh laju air selama berminggu-minggu. Di bak terbuka, berjejal enam orang selain Rahmat di kemudi: Iskandar, sang bos pemilik kebun sawit kecil; dua orang kuli, Amir dan Faisal; serta tiga ibu-ibu tetangga yang ingin menumpang ke pasar. Mobil itu bukan hanya alat angkut, tapi ruang tamu berjalan tempat kabar desa berseliweran, keluh kesah, dan harapan-harapan kecil ditumpahkan.

“Katanya jembatan Seuneubok sudah sempit, Bang Mat,” kata Iskandar dari samping, matanya menatap genangan-genangan besar di kanan kiri jalan yang seperti mata hitam menganga.

“Lumayan, masih bisa lewat tadi pagi. Asal jangan tambah deras,” jawab Rahmat, kedua tangannya mencengkeram erat setir yang sudah longgar.

Percakapan mereka terputus oleh hujan. Bukan gerimis, melainkan tembakan air yang tiba-tiba mengguyur kaca depan, keras dan rapat. Wipers bekerja maksimal, tapi pandangan tetap buram. Dunia menyempit menjadi selubung air kelabu dan suara gemuruh di atap kaleng mobil.

“Hujan setan!” teriak salah satu ibu di bak belakang, suaranya tertelan deru.

Rahmat mengerem perlahan. Jalan di depannya sudah berubah menjadi coklat keruh, air meluap dari parit dan mengalir deras menyeberangi aspal. Dia mengenal jalan ini seperti punggung tangannya. Di depan, ada cekungan, tempat air biasanya berkumpul. Tapi hari ini, “biasanya” sudah tidak berlaku.

“Kita putar balik?” tanya Amir, suaranya tegang.

“Di belakang juga sama. Lebih baik pelan-pelan, lewat sini. Pendek,” bisik Rahmat, lebih pada dirinya sendiri.

Mobil pikap itu merayap masuk ke dalam genangan. Air menyembul dari samping, menyapu lantai kabin. Desisan panik terdengar dari belakang. Rahmat mengepalkan tangan, gigi terkunci. Mobil bergerak maju beberapa meter, lalu… diam.

Mesin mendengkur, ban berputar di tempat, mencakar-cakar air dan lumpur yang tak lagi memberi pijakan.

“Brengsek!” umpat Iskandar.

Itu adalah awal dari segala yang berhenti. Waktu, napas, harapan. Air yang tadinya mengalir, tiba-tiba berubah menjadi dinding yang mendorong, naik dengan kecepatan yang tak masuk akal. Dari hulu, sesuatu telah jebol. Arus bah datang tanpa suara lengkingan, hanya berupa tenaga maha dahsyat yang mendera.

Mobil bergoyang. Bukan goyang, tetapi terangkat. Seperti mainan di tengah seluncuran raksasa.

Teriak pertama pecah. Lalu semua suara menyatu: doa, panggilan nama ibu, tangis, teriakan minta tolong yang langsung terpotong saat air hitam pekat menerobos masuk ke kabin, dinginnya menyengat tulang.

Rahmat masih memegang setir. Matanya melihat Iskandar berusaha mendorong pintu yang tertahan tekanan air. Melalui kaca spion yang retak, dia melihat sekilas bayangan hitam—tubuh seseorang—terlempar dari bak seperti daun kering, hilang ditelan ombak coklat.

Dia menarik napas untuk berteriak, tapi air sudah memenuhi mulutnya, paru-parunya. Gelap. Sunyi yang menggelegar di dalam telinga. Mobil berguling-guling, diombang-ambingkan oleh kekuatan yang tidak mempedulikan besi, kaca, atau daging.

Pikirannya, anehnya, menjadi sangat jernih di dalam kekacauan itu. Dia teringat janjinya pada si kecil Malik untuk membelikan mainan mobil-mobilan dari pasar. Dia teringat bubur panas buatan istrinya pagi tadi. Dia teringat langit biru yang dilihatnya tiga hari lalu. “Sebentar lagi,” bisik hatinya, “sebentar lagi pasti berhenti.”

Tapi arus tidak berhenti. Ia membawa mereka, membenturkan besi penyok ke pepohonan, mengikis aspal, menghancurkan segala yang dianggap tetap. Di dalam kabin yang sudah setengah penuh air, tidak ada lagi jeritan. Hanya gelembung-gelembung udara kecil yang naik ke permukaan, pecah di tengah pusaran yang garang.

  •  

Pagi berikutnya, matahari muncul dengan kejam, bersinar terang di atas lumpur yang menyisakan kehancuran. Sebuah mobil pikap yang nyaris tak berbentuk ditemukan terbalik di rawa-rawa tepian, tiga kilometer dari tempat ia terseret.

Petugas yang datang membuka pintu yang hancur. Lalu, ada hening yang lebih pekat dari semua deru mesin dan percakapan lewat radio.

Di dalamnya, penuh dengan lumpur, duduklah mereka. Rahmat masih membelitkan setir, kepalanya tertunduk seolah tertidur. Iskandar memeluk jok di sampingnya. Di belakang, bentuk-bentuk yang tak lagi bernyawa berjejalan, masih dalam posisi bertahan, melawan sesuatu yang sudah lama berlalu.

Mereka tidak sempat kabur. Mungkin hanya sempat berpikir, “Sebentar lagi.”

Sebentar yang tidak pernah tiba. Di kafe awan kelam itu, pesanan terakhir mereka adalah ketakutan, dan tagihannya dibayar lunas oleh sungai yang tiba-tiba gila. Mereka pergi bersama, seperti hidup bersama, di dalam mobil tua yang akhirnya menjadi peti besi terakhir mereka, mengarungi banjir yang tak hanya menyapu jalan, tetapi juga sisa-sisa waktu yang tersisa untuk berlari.