Search

Kabut pagi masih menggantung di lembah ketika Irfan menyalakan genset kecilnya. Dari dalam container yang dijadikan posko darurat, ia melihat tumpukan material setinggi dua meter di jalan masuk Kota Padang Panjang. Batu, kayu, lumpur, dan sisa-sisa dahan besar berserakan seperti mainan raksasa yang porak-poranda. Jembatan Kembar, gerbang ikonik kota itu, nyaris tak terlihat, terhalang oleh amukan alam yang disebut orang tua-tua sebagai galodo.

Irfan bukan petugas BPBD. Ia hanya seorang tukang servis elektronik yang tokonya kebetulan tak tersentuh banjir bandang semalam. Tapi ada sesuatu yang mendorongnya datang ke sini lebih awal, bahkan sebelum alat berat mulai berderum. Sebuah naluri, atau mungkin sebuah ingatan.

Lima belas tahun lalu, di lokasi yang hampir sama, seorang bocah laki-laki tersangkut di pohon saat banjir melanda. Seorang lelaki paruh baya, seorang tukang servis radio yang sedang lewat, menyelamatkannya. Lelaki itu lalu mengajaknya ke sebuah container kecil, memberinya teh hangat, dan memperbaiki radio transistor rusak yang selalu dibawa si bocah. "Suara itu penting," kata lelaki itu sambil memutar-mutar tuning radio. "Dia yang memberitahu kita cuaca akan cerah, atau akan datang galodo."

Radio itu masih Irfan simpan. Dan sekarang, ia membawanya ke sini.

Sementara warga lain sibuk mengangkut perabot yang selamat atau memotret kerusakan untuk klaim asuransi, Irfan memilih duduk di atas sebuah batu besar yang terbawa banjir. Ia hidupkan radio transistor tua itu. Statik. Ia putar pelan-pelan.

"…dugaan sementara, banjir bandang dipicu hujan dengan intensitas tinggi di hulu…" suara presenter radio lokal terpotong-potong.
"…material dari lereng yang gundul…"
"…warga diimbau tetap waspada…"

Lalu, frekuensi itu melompat ke sebuah saluran yang hampir tak pernah terdengar lagi. Saluran radio amatir. Suara parau terdengar, dihiasi dengung dan desis.

"…di sini Posko Gunung. Air mulai surut di tikungan sebelum Jembatan Kembar. Terlihat ada mobil terjebak di balik tumpukan kayu, warna silver. Siapa pun di sekitar, mohon bantuan. Over."

Irfan membeku. Itu bukan frekuensi resmi. Suara itu tua, tapi terdengar akrab. Tanpa pikir panjang, ia meraih HT usang yang juga ia bawa. "Posko Gunung, ini Irfan di dekat Jembatan Kembar. Lokasi mobil silver, tolong rincikan. Over."

Suara di seberang terdengar terkejut. "Irfan? Nama yang dikenal. Siapa ayahmu? Over."

"Jamal. Dia dulu tukang servis radio. Over."

Diam sesaat. Lalu suara itu kembali, lebih lembut. "Jamal… Penyelamat yang baik. Dia yang ajari kami pasang jaringan peringatan dini di hulu, pakai sensor sederhana dan radio. Sebelum meninggal setahun lalu. Over."

Irfan menelan ludah. Ayahnya tak pernah bicara soal itu. Ia hanya tahu ayahnya sering pergi ke gunung, "untuk dengar suara angin," katanya.

"Lokasi mobil: 50 meter dari ujung tumpukan material, dekat pohon tumbang besar. Hati-hati, tanah masih labil. Over."

Irfan segera memberi tahu petugas BPBD yang sedang mendata. Tim penolong bergerak. Benar, ada seorang wanita tua terjebak di dalamnya, selamat tapi syok. Saat dievakuasi, wanita itu memegang erat foto keluarga. "Rumah di hulu… hanyut… tapi saya selamat," bisiknya.

Petang hari, alat berat mulai membersihkan jalan. Irfan masih duduk di containernya, memandang Jembatan Kembar yang perlahan mulai kelihatan. Radio di tangannya masih menyala. Tiba-tiba, suara parau itu kembali.

"Jamal akan bangga. Jaringannya masih bekerja. Sensor di hulu rusak, tapi laporan warga ke radio amatir masih bisa jadi peringatan. Terima kasih, Irfan. Jaga suara itu. Over."

Irfan memandang tumpukan material galodo—batu, tanah, kayu—yang menimbun jalan. Tapi di baliknya, ia kini melihat jejak lain: jejak ayahnya, jejak orang-orang seperti lelaki di radio, jejak sebuah sistem peringatan yang terbuat dari kemanusiaan dan gelombang udara, bukan dari teknologi mahal.

"Suara itu penting," gumam Irfan, menirukan ayahnya.
Ia mematikan radio, lalu mengambil sekop. Ada jalan yang harus dibersihkan. Tapi ada juga suara yang harus diteruskan.